Press "Enter" to skip to content

Krisma Sebagai Sakramen Perutusan

Melalui minyak suci dilambangkan sebagai materai Krisma (tanda rohani) satu untuk selamanya dalam perutusannya mewujudkan Kerajaan Allah. Dalam Sakramen Krisma itu orang menerima Roh Kudus yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul.

Begitu pula sebagai murid Yesus umat beriman Katolik menerima tugas perutusan tersebut sebagai ungkapan kesiapan diri mewartakan Kerajaan Allah dan dikuatkan untuk memberikan kesaksian tentang diri Kristus, demi pembangunan tubuh-Nya dalam iman dan cinta kasih. Karena pergumulan ini bersifat rohani, maka Allah memberikan kepada umat beriman sumber kekuatan, yaitu karunia yang berasal dari Roh Kudus-Nya sendiri.

Rekatekisasi adalah sebuah pemahaman kembali dari sakramen yang telah ia terima (Komkat 2012:38). Dengan mengucap rasa syukur dalam Ekaristi calon Sakramen Krisma kembali diingatkan dengan betapa besar Kasih Allah kepada manusia dan sepatutnya manusia mengucap syukur dan menyembah kepada-Nya.

Hal ini menunjukan akan adanya hubungan antara Sakramen Krisma dan Ekaristi yang menjadi puncak seluruh perayaan iman (Komkat KAS 2012:42). Paus Inosensius III menyatakan secara resmi bahwa penguatan atau Krisma termasuk ke dalam daftar Sakramen-sakramen.

forma sakramen penguatan atau Krisma ialah rumusan: “Semoga dimaterai oleh karunia Allah, Roh Kudus” (bdk. Artian lain merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh penerima Krisma dalam perutusan Gereja. Pengurapan juga dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap semangat dan ketetapan hati (Komitmen) pada diri orang-orang yang menerimanya dengan bantuan Roh Kudus. Setelah mengurapi, uskup menepuk pipi penerima Krisma sebagai tanda pemberian restu dan semangat.

Uskup memberikan semangat pada penerima Sakramen untuk berjuang menjadi saksi Kristus mewartakan Kerajaan Allah dengan mantap dan berani. Jadi Santo dan Santa menjadi teladan hidup kerohanian yang telah di jalankan pada masa hidupnya.

Artinya orang menerima Sakramen, hidupnya sungguh diperbarui oleh rahmat Allah sebagaimana terungkap dalam simbol-simbol yang ada. Sakramen Krisma akan memberikan buah-buah positif bagi penerimannya, secara umum buah-buah sakramen itu adalah pencurahan Roh Kudus secara Khusus baik dalam imannya dan dalam kehidupan sehari-hari.

Berkat sakramen itu mereka semua masuk menjadi putra putri Ilahi, mempererat hubungan dengan Allah, Kristus dan Gereja. Dalam konteks perutusan, berkat Roh Kudus yang diterima entah saat ditumpangi tangan atau diurapi minyak Krisma orang dikuatkan oleh Roh Kudus Allah sendiri sehingga siap menjalankan aneka tugas perutusan Gereja, terutama tugas menjadi saksi Kristus dan menjadi rekan kerja-Nya dalam menjalankan tugas perutusan mewartakan kabar gembira akan keselamatan (Komkat KWI, 2012:44).

Menuju Kedewasaan Iman di dalam Kristus – katolisitas.org

Selayaknya, kita yang telah dibaptis ingin bertumbuh menjadi lebih dewasa di dalam Kristus. Oleh karena itu sakramen Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi menjadi Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen yang kesatuannya harus dipertahankan. Karena pergumulan ini bersifat rohani, maka Allah memberikan kepada kita sumber kekuatan, yaitu karunia yang berasal dari Roh Kudus-Nya sendiri.

Kepenuhan Roh inilah yang dijanjikan oleh Kristus kepada para murid-Nya (Yoh 14:15-26).

Para Rasul menerima pemenuhan janji rahmat Penguatan dari Roh Kudus tersebut pada hari Pentakosta. Setelah dipenuhi oleh Roh Kudus, para murid menjadi berani untuk mewartakan “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis 2:11). Curahan Roh Kudus merupakan tanda untuk saat mesianis pada hari-hari terakhir (lih. [4] Rasul Paulus mengajarkan agar sebagai umat beriman, kita perlu bertumbuh, agar tidak terus menjadi manusia duniawi yang puas dengan susu, melainkan juga yang dapat menerima makanan keras (1 Kor 3:2, Ibr 5:12). Pertumbuhan ini dimungkinkan oleh Roh Kudus yang memberikan kekuatan kepada kita. Pertama, sakramen Penguatan menyebabkan curahan Roh Kudus dalam kelimpahan, seperti yang dialami oleh para Rasul pada hari Pentakosta. [5] Curahan Roh Kudus dapat menjadikan kita seperti para rasul: yaitu memiliki kasih yang berkobar kepada Kristus dan keinginan memberikan diri untuk ikut serta dalam karya Keselamatan-Nya. Gereja menghendaki agar semua anggotanya disempurnakan oleh Roh Kudus dan dianugerahi dengan kepenuhan Kristus.

[9] Ketiga sakramen, Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi diberikan pada saat seseorang memulai kehidupan sebagai seorang Kristen. Seperti halnya roti dan anggur yang setelah doa konsekrasi diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus, maka minyak itu setelah doa permohonan kepada Roh Kudus diubah manjadi karunia rahmat Kristus untuk menanamkan sifat Ilahi yang menguduskan jiwa kita oleh Roh Kudus.

St. Jerome (347-420) mengajarkan bahwa penumpangan tangan setelah Pembaptisan dan doa permohonan kepada Roh Kudus merupakan Tradisi Gereja. Bukti alkitabiah dari Tradisi ini dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul. St. Thomas Aquinas (1225-1274) mengutip Paus Melchiades mengatakan, bahwa Roh Kudus yang turun melalui air pada waktu Pembaptisan yang membawa keselamatan, menganugerahkan pembersihan dari dosa, tetapi dalam Penguatan, Ia menyampaikan penambahan rahmat. Kini, sering kita mendapati bahwa Sakramen Penguatan diberikan secara terpisah dari Pembaptisan, sehingga ketiga sakramen (Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi) tidak diberikan sekaligus seperti pada abad-abad awal.

Pertama, karena prinsip pengajaran ‘quam primum‘, yaitu Pembaptisan harus dilakukan segera setelah kelahiran. Karena pesatnya pertumbuhan umat Kristen sejak abad ke-4, maka diperlukan kesiap-sediaan para imam dan uskup untuk memberikan ketiga sakramen setiap waktu.

[18] Namun demikian, sampai abad ke-8 tetap diusahakan pemberian ketiga sakramen sekaligus, dan jika Sakramen Penguatan tidak diadakan segera setelah Pembaptisan karena uskup tidak dapat hadir, itu dianggap sebagai kelalaian.

Jadi, meskipun pada abad ke-10, upacara ketiga sakramen diadakan sebagai satu perayaan, kita mengetahui bahwa pelaksanaannya tidak mudah. [21] Penundaan penerimaan Komuni pada anak-anak ini berkaitan dengan penghormatan terhadap Ekaristi, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus (lih. [22] Paus Paulus V (1614) menegaskan kembali bahwa ketiga sakramen tidak perlu harus digabungkan di dalam satu perayaan.

Melihat kenyataan ini, maka Vatikan II memberikan beberapa keputusan penting untuk menyatukan kembali ketiga sakramen inisiasi, yaitu: 1) Jika mungkin Pembaptisan diberikan di dalam perayaan Ekaristi, demikian juga Penguatan, atau setidaknya didahului oleh Liturgi Sabda[23]; 2) Ritus Penguatan direvisi[24] untuk menyatakan kaitan yang erat dengan Baptisan dan Ekaristi; Pembaharuan janji Baptis dan pernyataan iman diucapkan sebelum Penguatan; 3) Meskipun yang terbaik adalah uskup yang memberikan Sakramen Penguatan, namun jika kebutuhan meningkat, maka uskup dapat memberikan kuasa kepada para imam untuk tugas tersebut[25]; 4) Ditetapkannya Ritus Inisiasi bagi umat dewasa (RCIA= The Rite of Christian Initiation for Adults) yang memberikan acuan untuk proses inisiasi yang terpadu, dari persiapan katekumen, pemberian ketiga sakramen bagi umat dewasa, mystagogia, yang melibatkan umat pendukung (sponsor) dan umat lainnya untuk mendukung perjalanan iman para katekumen. Sakramen Penguatan seharusnya membawa dampak yang besar dalam kehidupan rohani kita. Bukan berarti bahwa tidak ada Roh Kudus pada orang-orang tersebut, karena melalui Pembaptisan dan Penguatan, Roh Kudus sudah hadir dan siap berkarya di dalam hidup mereka, hanya saja sikap kesiapan hati pada saat penerimaan sakramen juga adalah sangat penting[26] agar seseorang dapat menerima kelimpahan buah-buahnya.

Ada beberapa tanda kedewasaan iman dalam Kristus, yang dimungkinkan oleh karunia Roh Kudus.

Namun semakin besar, sifatnya (seharusnya) berubah, dan dapat memperhatikan orang lain. Dengan ini kita memenuhi kehendak Tuhan yang berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Sudah menjadi misi Kristus untuk menyelamatkan semua manusia, maka jika kita sungguh mengasihi Kristus kita akan turut mengambil bagian dalam misi-Nya tersebut, yang juga menjadi misi Gereja. Rasul Paulus menunjukkan hal ini dengan begitu jelas dalam suratnya kepada jemaat di Filipi.

Timotius diutus oleh Rasul Paulus untuk membacakan pesannya kepada jemaat di sana, yang berisi nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2:1-11), untuk menghindari segala bentuk perselisihan. Namun, melalui Kitab Suci, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa ajaran Tuhan bukanlah demikian.

Artinya, dengan rahmat Tuhan, kita harus berjuang untuk meninggalkan dosa dan segala keakuan kita, serta mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk dapat mencapai kebahagiaan bersama-Nya (lih. Bersama Kristus dan semua anggota Gereja-Nya, kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah, (lih.

Cyprian, Epistles 64 as quoted in The Sudy of Liturgy, edited by Cheslyn Jones, Edward Yarnold SJ, p. 123 [26] Lihat Sacrosanctum Concilium, 61, “Dengan demikian berkat liturgi Sakramen-sakramen dan sakramentali bagi kaum beriman yang hatinya sungguh siap hampir setiap peristiwa hidup dikuduskan dengan rahmat ilahi yang mengalir dari misteri Paska Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus.

5 Tanggung Jawab Setelah Menerima Sakramen Krisma Bagi Umat Katolik

Dalam hal ini makna Sakramen Krisma mengacu pada Kis 10:38 dan Yoh 14:15-26 yang berarti menerima pengurapan Roh Kudus. Jadi, setelah menerima Sakramen Krisma, seseorang dituntut untuk memiliki tanggung jawab lebih terhadap iman dan gerejanya. Setelah menerima Sakramen Krisma, orang tersebut diharapkan dapat lebih giat lagi menjadi sakasi kristus. Setelah menerima Sakramen Krisma, umat katolik dituntut untuk memiliki kedewasaan rohani, salah satunya terlihat dalam kasihnya kepada Kristus.

Seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20, yaitu mewartakan Injil Kristus, mengambil bagian dala misi Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Penerima Sakramen Krisma diharapkan rela memikul salib yang Tuhan izinkan dialaminya, dan mengikuti-Nya (Mat 16:24).

Terdapat lima tanggung jawab penerima Sakramen Krisma yang kami rangkum untuk anda, yaitu: menjadi saksi Kristus, memusatkan perhatian kepada Kristus, memberikan diri untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia, dengan rela memikul salib, dan mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.